Perkembangan Baby Khay Setelah Sebulan

Hai, mumpung baby Khay lagi pules dan mood ngeblog muncul, mau berbagi cerita tentang perkembangan baby Khay ni. Alhamdulillah baby Khay udah sebulan lebih umurnya. ASInya kuat pake banget dan sukses bikin pipinya gembil.hehe.. Soal ASI, ya Allah ternyata gak semudah yang dipikir ya. Lecet, sakit, perih, capek, campur aduk rasanya setiap mau nyusuin. Bahkan ampe nangis2 kalau baby Khay gak berhenti2 nyusunya. Dari kanan ke kiri ke kanan lagi terus ke kiri. Mata yang udah sepet dan badan yang pegel bin capek, sukses bikin aku nangis2. Tapiiii Alhamdulillah itu dulu, di minggu2 awal. Sekarang baby Khay udah makin pinter mimiknya, ‘gentong’nya juga udah kebal kali ya karena sering diisep jadinya udah gak ngerasa sakit.hihihi..

Nah, yang amazing dan aku syukuri banget ternyata dari usia segini pun baby Khay udah bisa dikasih tau, diminta kerja samanya, dimintain tolong. Hal itu sering banget terjadi dan aku benar2 bersyukur baby Khay bisa ngerti. Contoh kejadiannya pas aku perlu nyuci celana ompolan dia yang seabreg sementara dia gak tidur2 yang artinya gak bisa ditinggal. Walhasil setelah dimintain tolong baik2 supaya dia tidur atau diam anteng duduk di bouncernya, ehh dia ngerti loh. Dia anteng aja selama aku nyuci ampe jemurin. Trus soal tidur malem. Baby Khay Alhamdulillah gak nyusahin ayah bundanya kalau pas bobo malem. Bangun tiap dua jam cuma untuk nyusu. Abis nyusu langsung tidur lagi. Nah, yang jadi masalah mulai tidur malemnya. Kadang baby Khay bisa tidur dari abis magrib lanjut ampe malem. Tapi kadang susah juga ga tidur2. Nyusu mulu kerjanya, terus maunya digendong2. Alhasil aku ajak ngomong lagi deh. Minta tolong baik2 sama dia supaya tidur cepet tanpa perlu ngempeng ‘gentong’ lama2 atau digendong2. Ehhh, abis dibedong dan taro di kasur dia langsung tidur sendiri. Alhamdulillah.. Bener2 deh soal yang ini aku bersyukur banget.. Love you full pokoknya sama baby Khay 😘

Yaudah gitu dulu aja. Mumpung dia tidur aku mau ikut tidur jg..hohoho

Syndrome Mama Baru

Kalau ada satu kata yang bisa menggambarkan tentang rasanya jadi mama baru, aku ingin bilang LUAR BIASA!

Kenapa?

Aku pikir, setelah sukses melahirkan yaudah sukses dan mulus aja proses ngebesarinnya. Ealaaahdalaaah.. Ternyata itu hanya kelihatannya saja, saudara-saudara.

Dua hari pasca baby Khay lahir, asi belum mulus keluar. Alhasil baby Khay yang ternyata asinya kuat banget itu kelaperan sampai badannya hangat dan mulai ada gejala kuning. Memang sih secara teori baby Khay bisa bertahan selama tiga hari tanpa asupan apapun sejak lahir, tapi karena sudah muncul gejala “kurang” enak akhirnya mau gak mau dibantu lah dengan sufor. Asli, sedih rasanya saat itu. Pengen banget kasih dia asi, lah ini belum bisa. Berasa “kurang” banget jadi ibunya karena belum bisa kasih hak dia. Tapi Alhamdulillah, setelah besoknya diajarin pijat payudara asinya langsung keluar dan sekarang sampai netes-netes.

Nah, puncak kebahagiaan ngasih asi ternyata juga dihantam oleh rasa galau bin mellow. Badan yang mulai ngerentek karena harus begadang tiap malem, kurang tidur, pokoknya cuapek pol. Debay yang ternyata kuat banget asinya sampe bikin p*t*n* payudara sakit karena lecet. Plus jahitan obras yang suka ngilu bin nyelekit. Semuanya sukses bikin aku nangis dan hampir nyerah.

Ya Allah, begini amat jadi orang tua. Berat banget. Gak ada abisnya capek, sakit, pokoknya menderita. Semua ibu baru ngalamin juga gak sih? Itu pikirku.

Hingga akhirnya aku dapat suntikan motivasi dari orang-orang luar biasa yang ada di sekelilingku. Mereka, para ibu muda, pasti juga mengalami hal yang sama. Bahkan yang lebih parah, lebih banyak. Toh mereka ternyata enjoy dan menikmati peran barunya. Kenapa aku harus merasa lelah dan tak menikmati peran baruku?

Dalam diam saat bangun tengah malam, kutatap wajah putri kecil dan suamiku. MasyaAllah, mereka adalah anugerah terindah yang Allah kirim untukku. Kenapa aku harus merasa lelah, tak ikhlas, tak kuat, dan tak menikmati hari-hari baruku? Mereka adalah orang-orang yang kupinta di setiap doaku. Orang baik, hebat, yang kelak akan hidup bersamaku hingga ujung usia. Bukankah aku harusnya bersyukur?

Alhamdulillah..
Kali ini kata itu tak pernah lepas dalam setiap hariku. Lelahku, sakitku, bukanlah seberapa dibanding kebahagiaan yang kumiliki saat ini. Banyak orang di luaran sana yang mungkin belum seberuntung diriku, jadi sudah sepantasnya jika aku merasa beruntung dan bersyukur kan?

Khaylila sayang,
Maafin bunda yang kemarin sempat ngerasa lemah dan tak berdaya urus kamu. Bunda senang, bahagia, dan sangat bersyukur memiliki kamu. Ini yang bunda pinta, jadi sudah seharusnya bunda bertanggung jawab atas keinginan bunda. Bunda hanya sedang berproses untuk menjadi ibu yang baik tuk kamu, kita tetap kerja sama ya sayang..

Suamiku tercinta,
Terima kasih karena sudah menjadi partner terbaikku dalam menjalani peran baruku menjadi ibu. Pelukanmu, usapanmu, pijatanmu, semangatmu, rasa lelah yang walau dirasakan tapi tak ditampakkan, benar-benar menjadi motivasi terbesarku. Terus dampingi aku tuk membesarkan harta kita, ya..

Orang tua dan mertuaku,
Dua pasang malaikatku yang tulus dan berhati mulia. Tak lelah jika direpotkan dengan urusan gendong sana-sini, ganti popok, mandiin, gantiin jagain sementara bundanya tidur, pokoknya segala hal yang dilakuin agar aku dan bayiku nyaman. Terima kasih atas cintanya yang luar biasa pada kami. Tanpa kalian, kami bukanlah apa-apa..

Yaa akhir kata, aku cuma mau bilang kalau proses yang sedang kujalani ini memang tidak mudah. Tapi atas dukungan orang-orang luar biasa di sekelilingku, semuanya terasa nyaman dan bisa kulalui. Apa yang kumiliki saat ini adalah harta dan keindahan yang tak terkira.

Terima kasih, ya Allah..

Welcome My Baby Khay.. [LATE POST]

Setelah beberapa hari menggalau ria karena debay di perut tak juga menunjukkan tanda-tanda ingin keluar, Alhamdulillah puji syukur kepada Allah karena pada Kamis, 9 Juli 2015 pukul 10.35 debay akhirnya lahir. Debay lahir dengan cara normal alami alias spontan, dengan panjang 50 cm dan berat 3,45 kg. MasyaAllah.. Alhamdulillah.. Syukur tak henti kupanjatkan atas lahirnya mahkota kami yang berharga, Khaylila Zevanna Alfariyani.

Umumnya orang tua, kami berharap sesuai arti namanya agar anak kami bisa menjadi mahkota pertama yang berharga. Mahkota itu indah berkilau, dimiliki oleh sosok pemimpin, dan tak ternilai harganya. Karena itu, kami berharap anak pertama kami itu kelak akan menjadi pemimpin yang baik dan bersinar, juga berkualitas baik dimata dunia dan akhirat. Aamiin

Soal proses persalinan, baiklah akan kuuraikan kronologis kejadiannya..

Minggu, 5 Juli 2015
Bulan Juli semakin berjalan, tanda lahir belum ada. Atas saran ibu mertua akhirnya coba ngepel jongkok. Ampe dibeliin kain pel baru sama ayah sehari sebelumnya. Engep banget pas ngelakuin, but it’s work!

Senin, 6 Juli 2015
Abis solat subuh dan langit agak terang, jalan pagi sama ayah keliling cluster perumahan. Kira-kira setengah jam. Setelah itu pulangnya jalan kaki ke tukang sayur dekat rumah. Nah, siang sekitar pukul 14.30 keluar flek coklat. Tanda persalinan yang pertama. Sorenya, malah keluar lendir darah, tanda persalinan kedua. Tapi hanya sebatas flek dan lendir, tanpa mulas. Kebetulan malamnya jadwal kontrol ke dokter kandungan (dengan dokter Aditya Maharani)  Cek CTG hasil bagus. Cek bukaan masih nol. Saran dokter inap 4 jam tuk observasi. Tapi kami memutuskan untuk pulang dan menanti pembukaan di rumah.

Selasa, 7 Juli 2015
Tanggal yang sempadanadi patokan HPL. Mulai berasa mulas. Tapi masih seperti kalau mau haid. Jalan pagi tetap dilakukan dengan menahan rasa mulas. Berharap sudah mulai ada pembukaan. Tapi ketika cek ke bidan dekat rumah, masih pembukaan nol.

Rabu, 8 Juli 2015
Ayah pergi ke kantor. Orang tua yang kemarin sempat menginap di rumah, juga pulang. Akhirnya sendirian di rumah dengan merasakan mulas yang levelnya semakin naik. Beruntung sahabatku datang untuk main. Lumayan, ada temannya kalo aku perlu apa-apa. Hari semakin larut, mulas makin menjadi, gak bisa tidur.

Kamis, 9 Juli 2015
Jam dua pagi bangunin ayah untuk usap-usap pinggang karena mulas yang makin menjadi-jadi. Diputuskan kalau setelah solat subuh harus ke rumah sakit. Gak peduli mau lahiran atau belum, tapi yang jelas lebih ngerasa aman kalau ke rumah sakit. Jam 3 pagi saat ayah sahur, aku mandi. Kalau akhirnya harus lahiran kan udah wangi.hehe.. Selesai solat subuh kami langsung jalan ke rumah sakit dengan bawaan tas persalinan yang komplit.
Sampai di rumah sakit dengan kursi roda langsung dibawa ke ruangan observasi. Di CTG lagi dengan nahan mulas dan dicek bukaan. Alhamdulillah, jalan pembukaan 4 katanya. Semangat banget pas dengernya. Semakin menggebu kalau aku sebentar lagi bisa melahirkan normal alami.
Ohya, soal pembukaan aku punya cerita. Sehari sebelumnya aku sambil nangis-nangis coba bicara dengan debay, bahkan rahim, plasenta, ketuban, juga aku mohon-mohon supaya semuanya mau kerja sama, mau berjuang sama-sama supaya debay bisa cepat lahir. Debay memang sudah di bawah posisinya, tapi belum masuk panggul. Jalan lahir juga katanya masih tinggi dan belum lunak semuanya. Makanya aku sampai mohon-mohon banget. Trus aku khusyuk banget berdoa, mohon sama Allah supaya Allah bisa memberikan kuasaNya padaku, tentu sambil nangis-nangis. Berharap bahwa Allah mau memudahkan pembukaanku, mempercepatnya, melancarkannya, hingga aku bisa melahirkan normal alami tanpa intervensi medis apapun. Alhamdulillah lagi, Allah mendengar doaku itu.
Lanjut soal persalinan, setelah pembukaan tiga mama datang. Suami diminta urus rawat inap dllnya ke bagian administrasi, sementara aku ditemani mama di ruang observasi. Tiba-tiba aku merasa ingin buang air kecil. Baru saja duduk di tempat tidur, byuuuuur keluar air yang sangat banyak. Ketubanku pecah. Mama langsung melaporkan pada suster dan aku pun segera di bawa ke ruang bersalin.
Sampai di ruang bersalin (yang lebih mirip kamar perawatan karena ada sofa, tv, kamar mandi dalam), aku mulai dipasangin penunjang medis segala rupa. Infus lah, oksigen lah, dan gak tau apalagi. Aku udah mulai ga fokus. Rasa mulas setelah ketuban pecah itu benar-benar luar biasa. Mulai deh melupakan ritual ambil nafas dan hembuskan yang tadi masih sukses aku lakuin. Bawaaanya udah pengen nangis, teriak, nyerah aja. Setiap mulas datang, langsung cek pembukaan. Pelan tapi pasti pembukaan terus naik. Tapi setiap naiknya itu pasti diiringi dengan teriakanku yang bilang, “Udah ma, gak kuat. Aku gak bisa. Aku nyerah ayah. Ayah, sakiiit. Aku mau sesar aja!”
Tapi selalu aja disautin sama bidan, perawat, mama, dan suamiku dengan kalimat positif, “Kamu bisa. Semua perempuan aja bisa. Kamu udah pembukaan setengah jalan ini, tinggal dikit lagi. Kamu udah ngejalanin prosesnya dengan bagus, alami. Masa mau sesar? Hirup oksigennya dalam-dalam, hembuskan lewat mulut. Kasih dedeknya yang diperut oksigen. Kalau ibu gak nafas dengan benar, kasihan dedeknya gak bisa nafas juga. Gak mau dedek kenapa-kenapa kan?”
Sumpah! Aku tau, aku juga inget ritual nafas itu. Aku juga sadar kalau ini saatnya aku yang berjuang, tapi ya Allah sakitnya benar-benar luar biasa. Apalagi sakit saat nahan gak boleh ngeden. Ya, mulai dari pembukaan lima aku mulai ingin ngeden saat mulas datang. Langsung deh “diceramahin” sama semua orang yang ada di ruangan itu. Katanya nanti jalan lahirnya bengkak, dedek makin susah lewatnya karena besar, dll. Ya Allah, nahan ngeden itu yang paling luar biasa!
Sampai akhirnya udah gak keitung berapa kali aku teriak dan marah-marah, ehh perawat dan bidan yang ada di dalem mulai beres-beres. Perlengkapan debay, jahit menjahit, dan semuanya udah mulai disusun. Hingga akhirnya bidan bertanya, “Bu, mau mama atau ayahnya yang di ruangan ini? Cuma boleh satu orang”. Aku jawab, “Bapak!” Haha, jawaban aneh. Tapi bidan akhirnya meminta mamaku untuk keluar. Setelah itu aku dengan polosnya nanya, “Ini udah mau lahiran ya?” karena ajaib, rasa mulesnya tiba-tiba hilang. Apalagi pas dokter Aditya sudah berada di posisinya, sebelah kanan kakiku.
Dan pertunjukkan dimulai. Kalau berasa mulas dan ingin ngeden, aku diminta ngeden sekuatnya. Debay bisa dibilang besar soalnya, jadi kudu ekstra tenaga. Percobaan pertama gagal. Kedua juga gagal. Hingga akhirnya di percobaan keberapa gitu (gak sempet ngitungin) akhirnya debay keluar. Tangisnya langsung membahana seruangan dan aku bangun dari mimpi!
Ya Allah, benar-benar gak nyangka aku bisa melahirkan normal alami seperti keinginanku. Aku akhirnya bertemu dengan anak yang beberapa bulan belakangan ini selalu bersamaku. Aku akhirnya menjadi ibu!
Setelah dibersihkan seadanya, debay langsung ditaruh di dadaku untuk IMD. Sementara dokter Aditya melanjutkan proses jahit menjahit. Sakit? Gak. Kaya digigit semut aja. Beneran. Lagian aku juga fokus ngeliatin anak yang lagi diem anteng di dadaku ini. Merem melek, merasakan kehangatan ibunya. MasyaAllah.. Luar biasa rasanya.
Kata bu dokter aku diobras. Yah, gak masalah lah ya, pikirku saat itu. Yang penting debay udah keluar dengan sehat selamat. Jahitannya berapa aja juga gak masalah. But nooooow! OMG! Itu jahitan sampai anus. Ruasane poooool! Setelah beberapa hari baru deh berasa nyiksanya.huhu.. Tapi yaa masih bisa bersyukur dibanding dengan sakitnya yang jahitan sesar toh?
Ohya, ada proses lucu pas ngeden. Suamiku tadinya berada di sebelah kananku. Maksud hati supaya bisa bantu usap-usap kepala atau megangin tangan. Tapi karena beberapa kali ngeden debay belum keluar juga, akhirnya posisi suamiku diganti bidan dan perawat yang bertugas mendorong perutku ke bawah supaya debay gampang keluar. Suamiku merasa tersisih katanya..hihihi

Well, itu cerita persalinanku. Rasanya memang luar biasa. Campur aduk. Tapi satu yang pasti, perjuangan belum berakhir. Inilah justru awal perjuanganku. Semangaaaat!

Ku Menunggumu…

Menunggu.
Kata itu tak akan pernah lepas dari hidup manusia.
Meski hati senantiasa resah, jiwa tak tenang, doa terus dipanjatkan, nyatanya kegiatan itu akan selalu terjadi dan tetap dijalani.
Seperti halnya saat ini, aku menunggu.
Menunggu hadirnya buah cinta bersama sang pendamping hidup.
Menunggu ia akhirnya mau bekerja sama untuk keluar melihat dunia.

Kalau dipikir, rasa ini tak seberapa dibanding penantianku yang lalu.
Hampir dua tahun menunggu pengganti anugerah yang dulu hanya mampir sesaat di rahimku.
Sembilan bulan menahan asa dan derita ketika akhirnya anugerah itu hadir kembali.
Sekarang, ketika semuanya akan selesai sesaat lagi, ya Tuhan.. Kenapa aku tak bisa lebih sabar?

Aku tau dan percaya,
Ia punya waktu yang sudah digariskan sang Illahi untuk hadir.
Ia juga mampu dan mengerti bagaimana caranya berkerja sama dengan tubuhku.
Tubuhku pun secara alami akan menunjukkan tandanya jika proses itu sudah dekat.
Aku hanya perlu menunggu, ya menunggu sebentar lagi.

Ketika akhirnya gelombang cinta itu datang.
Ketika tangis haru tak dapat tertahan melihat wajah cantiknya.
Ketika menyadari bahwa apa yang selama ini hanya bisa dirasakan, benar ada di depan mata.
Sungguh, membayangkan saja senyum ini tak henti terukir.
Tapi aku harus sabar. Aku harus sabar sebentar lagi.

Kita nikmati saja akhir kebersamaan ini dengan sesuatu yang menyenangkan.
Kita buat memori yang indah.
Kita persiapkan semuanya lagi dengan matang.
Kita pasti bisa menunggu, hingga akhirnya bertemu dan bersama hingga ujung usia.
Aamiin.

Kontrol si Cantik di 38week

Hari ini kontrol my baby -yang di usg berulang kali katanya fix cewe- sama dokter Regina. Pas banget masuk ruangan bu dokter ehh adzan magrib. Jadinya kontrol dalam keadaan puasa kelebihan waktu sedikit deh. Pas keluar ruangan langsung cuus melahap tahu goreng dan es teh yang sempet dibeli ayahnya sebelu masuk ruangan.

Seperti biasa ditanya kabar dan ada keluhan apa setiap awal ketemu bu dokter. Langsung deh cerita kalau perut atasnya tu sakit banget. Sumpah, kaya ketarik. Ngilu, nyeri, pokoknya bikin susah gerak. Ternyata kata bu dokter itu biasa karena beban perutnya tambah besar, jadi urat dan otot perutnya ketarik. Yaampuun, ini derita yang paling terasa dibanding punggung pegel. Kalau mau nangis mah nangis deh, secara jadi kaya nenek-nenek yang kudu pelan geraknya.huhu.. Tapi mengingat sebentar lagi debay InsyaAllah launching, waah dikuat-kuatin deh. Ayooo nak, cepat keluar supaya kita sama-sama nyaman..

Pas kontrol tadi seperti biasa di usg. Alhamdulillah katanya semua normal. Ketuban bagus, besarnya pas (3,1kg), jenis kelamin keliatan banget perempuan. Jadi, InsyaAllah mau lanjut puasa. Nanti cuti puasnya kalau tanda-tanda persalinan sudah mulai terasa aja.

Nah, selain di usg tadi juga dilakukan pemeriksaan dalam. Tuk cek panggul katanya. Jadi, jari bu dokter masuk tuk ngecek posisi bayi sekaligus lebar panggul. Kata bu dokter, posisi bayi memang belum masuk panggul. Tapi sudah mulai mendekati. Nanti seiring kontraksi biasanya akan semakin masuk. Jadi, aku nggak perlu panik diukuran segini belum masuk panggul. Trus kata beliau ukuran panggulku Alhamdulillah lebar. Jadi biasanya gampang tuk lahiran. Aamiin.. Mudah-mudahan bener.. 😄

Tapi kata bu dokter aku tetep kudu banyak baca tentang proses persalinan dan menyusui. Tekad aku juga harua kuat kalau bisa lahiran normal. Itu kunci bisa lahiran normal kata beliau. Siap bu dokter, mau dibaca2 lagi bukunya..

Oia, bu dokter juga nyampein berita yang weeew juga. Ternyata beliau dari tanggal 4-18 Juli mau cuti liburan. Alhasil, aku yang emang udah deket HPL ini jadi perhatian dia. Kalau sampai tanggal 4 belum lahir, terpaksa nanti kalau lahiran dibantu dengan dokter lain. Beliau menyarankan dengan dokter Aditya Maharani (yang menangani waktu kuret di kehamilan pertama), atau dokter Upik (dokter kandungan yang ada terus di rumah sakit). Kalau boleh jujur mah maunya sama dokter Regina aja. Secara beliau yang tau riwayat kehamilanku ini. Tapi apa mau dikata, kalau ternyata debay belum mau keluar sebelum dokternya liburan, yaa pasti diganti dokter lain. Siapapun yang ngebantu persalinan, fokusnya kan ibu dan bayi selamat. Jadi seharusnya nggak masalah siapa yang bantuin, sama aja istilahnya. Mereka sama-sama enak dan jago juga katanya. Yaaah, kuterima saja lah..huhu

Tapi aku masih berharap bisa lahiran dibantu dokter Regina. Makanya ini mau coba ngerayu debay supaya mau keluar sebelum dokternya pergi. Memang sih, debay punya waktu sendiri tuk lahir. Tapi kan kita juga harus usaha. Siapa tau debaynya mau bantu dan mengerti. Aamiin.. 😁

Ayo, Nak.. Kita lahiran lebih cepat dari HPL. (Seingatku 7 Juli, tapi di data bu dokter 9 Juli katanya). Biar bisa sama bu dokter yang ngebantu kita. Terus biar nggak ngerasain induksi juga kalau batas waktu HPL kamu habis. (Biasanya 3 hari setelah HPL mulai dipikirin tuk induksi.huhu). Kita kerja sama yaa, sayang.. 😘

  • Facebook

  • Arsip

  • Kategori

  • Tag

    akad nikah B1A4 bahasa Indonesia baro batik Batu Bekasi belanja keperluan bayi berbicara Bromo choi jong hun cinta cita-cita dr. Regina Tatiana Purba Dr. Regina Tatiana Purba S.POG Dr. Sri Redjeki dr. W. S. Redjeki S.POg dr Regina Tatiana Purba Spog fanfiction film film barat film indonesia filosofi ft island gongchan guru hamil hermina grand wisata honeymoon ibu iko uwais ingin hamil jalan-jalan Jatim Park 2 jinyoung jogja kampus keluarga kontrol hamil korea kuliah lamaran Malang mega bekasi hypermall melahirkan membaca mengajar menjadi ibu menulis menyimak motivasi moto gp my wedding novel parenting pedrosa pernikahan persahabatan persalinan Promavit puisi renungan resepsi RS Hermina Grand Wisata rsia bella bekasi sabar sarjana sastra Indonesia sekolah dasar semangat senam hamil seserahan the raid trimester tiga wisuda
  • Tulisan Terakhir

  • Komentar Terakhir

    Eka di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Hidayat di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    annisa di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    K (@kabrinarian) di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    yuli agustina di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Putri di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Ade Krisna di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    ekayohans di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Musawir Muhammad di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Erika di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
  • Love Story

    Daisypath Anniversary tickers
  • Ikuti

    Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.