Pondok Indah Mertua VS Pondok Idaman Menantu

Baca judul di atas sepertinya serem banget ya? Kenapa? Karena bagi sebagian orang atau mungkin bagi banyak orang, tinggal bersama mertua adalah hal yang harus dijauhi. Serasa di neraka, katanya. Ikut campur urusan rumah tangga kita lah, dikit-dikit protes dan ngatur-ngatur lah, dan semacamnya. Bete sih memang kalau sampai gitu, terus gimana?

Eiiits, saya bukan psikolog yang bisa ngasih solusi macem-macem. Saya bukan mau bahas hal-hal apa yang harus/boleh dilakukan dan jangan dilakukan jika tinggal bersama mertua. Kebetulan saya tidak punya banyak ilmu tentang itu. Saya di sini hanya mau berbagi pengalaman tentang bagaimana rasanya tinggal bareng orang tua (mertua bagi suami saya) hingga akhirnya memiliki rumah sendiri. Apa saja suka dukanya, mana kelebihan dan kekuranganya, juga mungkin dapat membantu mba sis atau mas bro yang lagi galau antara tetap tinggal bareng mertua atau di rumah sendiri. Cekidot..

Tinggal di Pondok Indah Mertua itu…

Gak usah pusing mikirin uang yang harus dibagi ke banyak pos. Karena masih “numpang” orang tua, jadi mayoritas mereka yang tetap mengeluarkan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Makan, listrik, telepon, air, belanja bulanan, alat mandi, dll. Semua itu tetap menjadi tanggungan orang tua/mertua kita. Peran kita paling hanya bantu-bantu. Bantu bayar listrik lah, beliin kebutuhan bulanan lah, yang jumlahnya gak sebesar yang dikeluarin orang tua/ mertua kita. Bahkan saat kita mau kasih mereka uang, mereka bahkan cenderung bilang, “udah uangnya ditabung aja”. Jadi, intinya pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari terpangkas cukup lumayan. Banyak uang yang bisa ditabung.

Kalau tinggal di Pondok Idaman Menantu alias rumah sendiri…

Bayar cicilan rumah, bayar listrik, nabung, asuransi, pulsa, belanja dan makan selama sebulan, alat mandi, alat bersih-bersih rumah, dll. Itu semua perlu dibayarkan dan akan membuat gaji habis tak tersisa. Yang dulu di rumah mertua bisa nyimpen duit banyak, ehh pas di rumah sendiri yang artinya gak ada yang bantu lagi, mau gak mau bikin kita harus ngeluarin uang gajian untuk dibagikan ke pos-pos itu. Awal-awalnya pasti kaget, tapi lambat laun akhirnya kita sadar, yah beginilah hidup berumah tangga.

Soal masak memasak saat masih tinggal mertua/orang tua…

Naluri ibu kali ya, udah terbiasa masakin tuk anaknya. Jadinya sekalipun ada anak menantu, yaa tetep dia yang masak. Bangun pagi-pagi untuk masak seisi rumah, gak akan ketinggalan. Sebagai perempuan dengan status anak/menantu pastinya sangat diuntungkan. Apalagi setelah sadar kalau kemampuan memasak kita masih di bawah rata-rata. Wuiih, selamet dah. But, gak bener kalau kita malah jadi ngandelin orang tua/ mertua kita. Bisa dicap anak perempuan yang gimana kalau gak bisa masak? Suami mau dikasih makan apa selama hidup sama kita? Sooo, saat seperti ini adalah saat terbaik untuk belajar masak menjelang tinggal di rumah sendiri. Percaya atau gak, aku sempat menyesal kenapa gak belajar masak dari dulu. Setelah tinggal di rumah sendiri, baru deh nyesel karena yang bisa kita masak cuma itu-itu aja.huhuhu

Tapi ada gak enaknya juga kalau dimasakin sama mertua/orang tua kita. Kita yang setelah nikah pengen banget bisa bereksperimen masak segala rupa yang disuka/diinginkan suami kita, jadi terbatas kreasinya karena gak enak kalau ngacak-ngacak dapur orang. Cuma bisa tahan, sabar, dan gak masak neko-neko lah.

Beda kalau tinggal di rumah sendiri…

Mau bikin dapur berantakan, silakan. Mau ngacak-ngacak dapur, gak akan ada yang marah. Intinya kita bebas berkreasi tentang apapun di rumah kita. Puas banget deh! Tapi, yaah tau sendiri lah. Sebagai istri yang harus bisa jadi koki dan mengatur keuangan, sekalipun kemampuan masak masih standar, tetep kudu masak. Gak mungkin kan kalau jajan mulu? Bisa tekor tiap bulan. Makanya, mau ga mau, capek gak capek, kudu masak. Yah, beberapa kali rasanya tu males banget bangun pagi-pagi cuma buat masak. Apalagi kalau sebelumnya abis bercapek ria. Nah, kalau lagi kumat begitu, aku mengakalinya dengan dengan masak di sore/malam hari. Jadi gak perlu bangun pagi buta, tinggal manasin sebentar, beres deh.

Ohya, soal masak, percaya atau gak, ternyata hal ini sangat berpengaruh buat suami. Suamiku dulu kurus dan sekarang, weeeew tambah gendut! Yaa gimana gak mau gendut? Makan tinggal nyuap aja, gak perlu nyari, masak, apalagi ngambil. Dan u know what? Kalau aku lagi kumat malas masaknya, suamiku langsung menyusut beratnya. Keliatan gak seger dan gak gemuk lagi. Masak dengan bumbu cinta kali ya? Jadinya berpengaruh banget?hehe

Soal uang udah, soal masak udah, apalagi ya? Hmmm, ohya soal beberes rumah. Dulu waktu masih tinggal sama orang tua…

Aku ini bisa dikatakan manja. Selalu ada pembantu di rumah. Jadinya semua pekerjaan rumah yang berhubungan dengan beberes, dikerjakan oleh pembantu. Aku? Sesekali aja kalau pas pembantu gak ada. Dan ketika akhirnya aku tumbuh besar, mama menghentikan pembantu dengan alasan supaya aku bisa mandiri. Alhasil, bagi tugas deh sama seisi rumah. Aku kebagian mengepel lantai atas bawah. Yaa kalau mama gak ada atau sakit, mau gak mau aku juga ikut megang kerjaan beliau. Nyuci baju, gosok baju, dll. Bisa sih untuk ngelakuin itu semua, tapi karena saat itu aku lagi masa sekolah dan kuliah yang berangkat pagi pulang sore/malem, jadinya gak bisa megang kerjaan rumah. Mama memakluminya, dan ternyata hal itu berdampak ke kehidupan di rumah sendiri.

Di rumah sendiri…

Kalau bukan kita yang bersih-bersih siapa lagi? Bersama suami lah kita bahu membahu membersihkan rumah. Alhamdulillah, aku punya suami yang mau ikut bersih-bersih dan beberes rumah. Dia mau bantuin dan gak ngebebanin aku aja. Cuma ya dasar manusia, kalau malesnya lagi kumat, kalau capeknya lagi banget, kalau urusan kerjaan bikin stres, buaaaaam! Hilang semangat untuk bersih-bersih. Di sini lah konflik sering terjadi. Saling nyalahin, saling perintah, yang endingnya gak ada yang bersihin rumah. Makanya, kebiasan dan keahlian beberes rumah itu bukan hal yang bisa tiba-tiba muncul. Baru berasa nasihat mama yang sejak dulu nyuruh beres-beres. Hai gadis, ayo biasakan diri dengan tugas rumahmu. Kelak jika bersuami itu akan banyak membantumu. Semangat!

Haha, rasanya aku malah curhat di sini.

Tapi yah, memang itulah yang terjadi. Tinggal bersama dengan mertua/orang tua berbeda banget nget sama tinggal di rumah sendiri. Kalau lagi lurus, pasti berpikiran positif kaya tulisan ini. Tapi kalau lagi melenceng, cuma bisa nangis di pojok kamar.hehe

Yah, semuanya punya kelebihan dan kekurangan. Semuanya ada enaknya dan ada gak enaknya. Mungkin ceritaku di atas didasari atas pengalaman yang bisa dikatakan enak. Tinggal di rumah orangtua sendiri yang kata suami juga nyaman, atau ketika aku tinggal di rumah mertua yang Alhamdulillah juga ngerasa nyaman. Pastinya hal yang kualami itu berbeda bagi orang lain. Mungkin justru ada yang ngerasa gak nyaman ketika tinggal bareng mertua/orang tua. Makanya gak heran kalau ceritanya akan berbeda. Tapi hal itu balik lagi ke kenyataan…

Ketika kita sudah menikah, berarti kita sudah siap dengan segala resikonya. Mungkin dulu kita sebagai perempuan biasa dilayani, biasa mendapatkan apa yang kita mau, gak pernah ngurus rumah dan masak, atau bisa tinggal bareng orang tua sendiri yang baik. Tapi ketika sudah menjadi istri yang artinya nambah keluarga, dan nambah tanggung jawab walaupun di rumah sendiri, wuuussssh! Semuanya berubah.

Kita lah yang melayani suami kita, menyiapkan segala kebutuhannya, mengabdikan diri untuknya. Yah, tentunya kita juga berhak dilayani dengan kasih sayang oleh suami kita. Seimbang, intinya. Tau tugas masing-masing. Ngomongnya memang gampang, tapi kenyataanya hal ini berat juga. Ego dan malas kita terkadang menyerang, jadi kita kudu sering introspeksi diri dan memompa semangat.

Kita juga gak bisa tuh bersikap kaya muda dulu yang egois, selalu ingin dapat apa yang dimau tanpa berpikir panjang. Setelah menikah, keinginan pribadi akan dibelakangkan. Keinginan bersama, itu pasti didahulukan. Misalnya, pengen banget minta ganti Hape. Dulu langsung minta sama ortu tanpa mikir keadaan mereka. Tapi sekarang, kita yang tau keuangan kita. Kita yang tau mana yang penting dan mendesak, juga tidak. Kelangsungan hidup rumah tangga kita lebih penting daripada keinginan semata.

Well, walau rasanya berat banget hidup di rumah sendiri dengan keluarga baru kita, tapi semuanya itu menyenangkan ketika kita mengingat bahwa ini merupakan ladang amal kita. Setiap harinya, setiap pekerjaan yang kita lakukan untuk keluarga kita, akan dihitung dan berbuah pahala juga kebaikan. Sampai saat ini aku masih berproses, masih berusaha untuk terus menikmati setiap hari yang dilalui bersama keluarga dan tugas baruku.

Hidup di rumah sendiri, seberat apapun, akan terasa ringan jika dilandasi oleh cinta, kasih sayang, dan keimanan. Kita tidak berjuang sendiri, ada suami yang senantiasa mendampingi. Bersamanya kita akan melewati beragam kegiatan, cobaan, kebahagiaan.

Ayo, ibu-ibu muda yang lagi galau atau jenuh sama peran barunya, mari tingkatkan lagi semangatnya. Semuanya menyenangkan jika kita berpikir menyenangkan. SEMANGAT!!

Noted: renungan untuk diri sendiri

Tinggalkan komentar

1 Komentar

  1. ana

     /  23 Februari 2016

    selagi kita bisa hidup mandiri semuda mungkin sama suami or istri, lebih baik hidup terpisah dr ortu or mertua,walaupun rumah ngontrak atau masih nyicil. emang ortu or mertua bakalan selamanya ada? emang ortu or mertua bakalan selamanya mampu nolongin finansial kita? so selama kita bisa mandiri walaupun pas2 an knpa enggak? toh suatu saat nanti jg kita harus mengalami hal itu, jd ga ada salahnya belajar mandiri berdiri diatas kaki sendiri semuda mungkin.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Facebook

  • Arsip

  • Kategori

  • Tag

    akad nikah B1A4 bahasa Indonesia baro batik Batu Bekasi belanja keperluan bayi berbicara Bromo choi jong hun cinta cita-cita dr. Regina Tatiana Purba Dr. Regina Tatiana Purba S.POG Dr. Sri Redjeki dr. W. S. Redjeki S.POg dr Regina Tatiana Purba Spog fanfiction film film barat film indonesia filosofi ft island gongchan guru hamil hermina grand wisata honeymoon ibu iko uwais ingin hamil jalan-jalan jinyoung jogja kampus keluarga khaylila kontrol hamil korea kuliah lamaran mega bekasi hypermall melahirkan membaca mengajar menjadi ibu menulis menyimak motivasi moto gp my wedding novel parenting pedrosa pernikahan persahabatan persalinan pregnant Promavit puisi renungan resepsi RS Hermina Grand Wisata rsia bella bekasi sabar sarjana sastra Indonesia sekolah dasar semangat senam hamil seserahan the raid trimester tiga wisuda
  • Tulisan Terakhir

  • Komentar Terakhir

    Ika di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    alma di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    wickyyumma di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Titis di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Titis di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Adhari di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Indri Lutfi di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Nindiya di Kontrol Pertama dengan Dr. Reg…
    indah di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Ilhamuddin Hidayat di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
  • Love Story

    Daisypath Anniversary tickers
  • %d blogger menyukai ini: