Rasanya Hamil Ketiga, Anak Kedua

Seperti yang sudah diposting sebelumnya, kalau aku akan berbagi cerita soal kehamilan ketiga (yang pertama BO, kedua kaka khay, jadi ini ketiga-red) yang sedang aku alami imi. Jujur, nggak kepikiran sama sekali untuk cepat hamil di saat Kaka Khay masih “piyik” banget. Masih banyak yang perlu dipelajari dalam mendidik anak, masih banyak ilmu yang harus dicari soal parenting, intinya ngurus satu aja masih banyaaak banget PRnya dan nggak kepikiran untuk nambah dalam waktu dekat.

Tapi yaaa, balik lagi soal “Kun Fayakun”. Jika Allah bilang jadi, maka jadilah. Takdir, rejeki, atau apapun namanya itulah yang Allah berikan untuk kami. Karena Kaka Khay masih ASI Eksklusif, aku jadi memakai KB alami alias belum haid sejak melahirkan. Sampai saat Kaka Khay di usia tujuh bulan-an, aku haid untuk yang pertama kali. Itu pun banyak fleknya. Karena rencana mau pakai KB IUD/spiral, alhasil udah niat banget bulan depan waktu haid lagi mau ke dokter untuk pasang KB. Tapiiiii belum ketemu haid berikutnnya ternyata aku udah nggak haid lagi alias hamil.

Tanda hamil sebenarnya udah terlihat dari awal, tapi lagi-lagi karena aku yang masih punya pikiran “nggak mungkin” jadi mengabaikannya. Jadi tuh selama beberapa minggu awal setiap naik mobil meskipun dalam jarak dekat, aku selalu ngerasa mual. Bahkan pernah sampai muntah. Padahal aku bukan tipe orang  yang mabokan kalau naik mobil. Aku masih cengar-cengir aja setiap dikatain lagi hamil. Lahwong emang nggak menduga sama sekali. Terus yaa lama-lama kok badan jadi berasa nggak enak kaya masuk angin gitu. Nah, baru deh mikir jangan-jangan beneran hamil. Lalu aku akhirnya minta dibeliin tespek sama suami. Yang murah dan satu aja. Siapa tau emang cuma masuk angin aja, pikirku saat itu.

Setelah beli tespek, bangun tidur pagi langsung deh melakukan uji cobanya di kamar mandi sendirian tanpa ajak suami. Awalnya satu garis, tapi looh kok lama-lama naik dan kelihatan jadi dua garis?? WHAAAAAATTTT?? Tanpa buang waktu langsung ke kamar dan bangunin suami, “Ayah, aku udah tespek. Tau nggak hasilnya apa?”. Suami yang biasanya ritual ‘ngumpulin nyawa’ butuh waktu lama, langsung bangun dan melek-semelek-meleknya. “Positif, Bun?”. Aku cuma nyengir sambil nunjukin hasil tespeknya. Detik berikutnya hening. Bingung mau komentar dan bersikap gimana.

“Yaudah nggak apa-apa, berarti rejeki kita.”, akhirnya suami buka suara. Aku? Lagi-lagi cuma nyengir. Mau ucap hamdallah tapi gimana, mau istighfar kok kesannya juga gimana. Rasanya benar-benar campur aduk. Sedih karena merasa kasihan sama Kaka Khay, takut nggak bisa meranin tugas baru, seneng karena berarti Allah percaya lagi sama kami. Wuaaaah, benar-benar dilematis dan dramatis pokoknya.

Hari-hari dengan kehamilan baru pun akhirnya mau nggak mau, suka nggak suka, harus aku jalani. Tuk yang ini, kok yaa maboknya lebih parah. Berapa kali Kaka Khay kesiram ‘jackpot’ bundanya yang udah mual banget pas di mobil. Bawaan di tas bayi Kaka Khay pun bertambah isinya dengan plastik, minyak kayu putih, dan permen untuk menghilangkan mual. Rasa lainnya? Wuuuiih, tetap urus Kaka Khay, beberes rumah, tanpa bantuan orang lain. Eehh, suami tentunya siaga bantuin sih, tapi kalau pas kerja yaa semuanya dipegang sendiri. Karena itu, kehamilan ini kok rasanya jadi kurang diperhatikan. Makan asal karena pasti mabok kalau masak, tetap gendong kakak kemana-mana, intinya berasa kaya nggak hamil aja. Maaf ya Dek, bukannya bunda nggak cinta.. *sambil usap perut

Di kehamilan ini juga beberapa kali aku kena flu. Drop badannya. Mungkin aku lelah..hehe. Bahkan sampai berobat ke dokter segala. Udah gitu di trimester tiga sempet kena musibah pergelangan kaki kanan keseleo, kudu diurut, diperban, dan nggak boleh jalan. Cobaan banget ya? Tapi Alhamdulillahnya dede ternyata bayi yang setrooooong. Mau bundanya gimana juga dia selalu tumbuh dengan baik setiap bulannya. Benar-benar bisa bantu dan ngerti kondisi aku.

Nah, di trimester tiga Alhamdulillah dapet mbak yang bisa bantu-bantu di rumah. Bantu beberes, masak, dan jagain kaka. Aku jadi punya waktu lebih banyak untuk merhatiin dede. Jadi bisa senam hamil (walau cuma di rumah dan sendiri), diajak ngomong dan ngaji, pokoknya jadi bisa mencurahkan kasih sayang ke dede yang selama ini (dirasa) kurang. Sekarang, saat aku tulis ini, aku sedang menanti dede melihat dunia. Tinggal beberapa hari sebelum HPL nih. Nggak banyak kata, cuma berharap persalinan kami normal alami, lancar, mudah, cepat, menyenangkan, sehat, selamat, untuk aku dan dede. Aamiin.

Bismillah.. Postingan selanjutnya semoga sudah tentang kegembiraan melahirkan dede ya. Aamiin..  ^,^

Ohya, selama ini kontrol dede di RS Hermina Grandwisata sama Dr. Regina Tatiana Purba, S.POg. Obygin kaka yang dulu telah dipanggil Allah, jadinya sama beliau deh. Tapi tetap enak kok. Tapi InsyaAllah lahirannya mau di klinik bidan aja yang deket sama rumahku dan rumah orang tua. Supaya nanti ada yang jagain kaka soalnya, sekaligus ingin merasakan dan mengukir cerita melahirkan bersama bidan. Sama aja sih, sama-sama ingin sehat dan selamat. Semangaaaaat!!

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Facebook

  • Arsip

  • Kategori

  • Tag

    akad nikah B1A4 bahasa Indonesia baro batik Batu Bekasi belanja keperluan bayi berbicara Bromo choi jong hun cinta cita-cita dr. Regina Tatiana Purba Dr. Regina Tatiana Purba S.POG Dr. Sri Redjeki dr. W. S. Redjeki S.POg dr Regina Tatiana Purba Spog fanfiction film film barat film indonesia filosofi ft island gongchan guru hamil hermina grand wisata honeymoon ibu iko uwais ingin hamil jalan-jalan jinyoung jogja kampus keluarga khaylila kontrol hamil korea kuliah lamaran mega bekasi hypermall melahirkan membaca mengajar menjadi ibu menulis menyimak motivasi moto gp my wedding novel parenting pedrosa pernikahan persahabatan persalinan pregnant Promavit puisi renungan resepsi RS Hermina Grand Wisata rsia bella bekasi sabar sarjana sastra Indonesia sekolah dasar semangat senam hamil seserahan the raid trimester tiga wisuda
  • Tulisan Terakhir

  • Komentar Terakhir

    Ika di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    alma di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    wickyyumma di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Titis di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Titis di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Adhari di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Indri Lutfi di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Nindiya di Kontrol Pertama dengan Dr. Reg…
    indah di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Ilhamuddin Hidayat di Kenapa ambil jurusan bahasa da…
  • Love Story

    Daisypath Anniversary tickers
  • %d blogger menyukai ini: