[PARENTING] Mengajarkan Anak Shalat Tarawih di Masjid

Menjalani Ramadhan di perumahan baru tempat tinggal saya sekarang rasanya campur-campur. Ada senengnya karena benar-benar berasa jadi ‘istri’ yang harus bangun awal untuk menyiapakan makan sahur (kegiatan yang sebelumnya tidak dilakukan karena dulu masih tinggal bersama orang tua), ada sedihnya karena hanya sahur berdua yang biasanya di rumah orang tua itu rame, juga ada lucu campur geli campur keselnya juga saat shalat tarawih.

Jadi ceritanya saya beberapa kali shalat tarawih di masjid yang ada di cluster perumahan. Karena ini perumahan baru yang isinya mayoritas pasangan muda, maka nggak heran kalau orang tua yang shalat bawa anak-anaknya yang masih kecil. Alhasil, kegiatan shalat tarawih jadi meriah deh. hehe.. Namanya juga anak-anak yang sudah jelas pastinya nggak bisa diem selama shalat, ada aja tingkah mereka yang bikin ‘gemes’. Ada yang menangis karena ditinggal ibunya shalat, ada yang lari-lari keliling sajadah, ada yang asik makan dan minum, ada yang tidur, bahkan ada yang bermain lari-larian dalam shaf shalat. Mau marah nggak bisa (nggak mau dianggap tante jahat), nggak dimarahin kesel sendiri (mau khusyu’ shalat eh tiba-tiba ada swiiing bocah lari di atas sajadah kita), mau nyuruh jangan berisik cuma bisa dalam hati (ibunya aja anteng dan nggak marahin anaknya), ya pokoknya kejadian selama shalat itu jadi membuat saya mikir untuk shalat tarwaih di rumah aja. Memang sih pahalanya sedikit karena tidak berjamaah, nggak bisa silaturrahim sama tetangga juga, tapi pastinya lebih khusyu’ karena nggak ada bocah yang seliweran dan berisik. Nah, masalah anak-anak yang ikut ibunya shalat tarawih ini malah jadi menggelitik hati dan pikiranku tentang metode pengajaran shalat yang tepat untuk anak. Masalahnya bukan shalat di rumah sendiri tapi shalat di masjid umum yang berarti ada orang banyak dan ada hal-hal yang lebih banyak diperhatikan.

Saya kagum dan mendukung para orang tua yang berniat mengajarkan anaknya mengikuti shalat tarawih di masjid. Itu adalah salah satu cara langsung dengan contoh yang tepat bahwa setiap bulan ramadhan ada ibadah shalat tarawih yang dilakukan di masjid secara berjamaah. Tapi mengajarkan bukan berarti ‘melepaskannya’ kan? Mengajak anak shalat tarawih ke masjid itu artinya kita harus menanamkan nilai pada anak dalam bersikap dengan orang lain. Rasanya tidak baik jika mengajak anak justru mengganggu ibadah orang lain seperti hal-hal yang saya sebutkan di atas. Makanya, perlu beberapa trik yang dilakukan dengan anak sebelum dan selama shalat tarawih/shalat berjamaah lain di masjid. Maaf kalau terkesan sok tau karena saya belum memiliki anak yang artinya belum memiliki pengalaman sendiri. Tapi InsyaAllah berdasarkan pengamatan, analisa, dan masukan dari para orang tua, saya bisa menjelaskannya menjadi beberapa poin sebagai berikut:

Pertama, jangan biarkan anak berkumpul dengan anak yang lain. Saya pernah menemukan beberapa anak kecil yang berjejeran shalatnya. Dan yang terjadi, anak justru bermain dengan teman-temannya itu. Karena ini merupakan pengajaran, maka sebaiknya tempatkan anak di sebelah orang tuanya. Katakan pada anak, bahwa kita ke masjid untuk shalat bukan bermain. Jika bermain, bukan masjid tempatnya. Orang tua harus bisa bersikap tegas di sini. Jika anak bisa menerima penjelasannya, pasti dia akan menurut. Selain itu, dengan shalat di sebelah orang tuanya, akan ada banyak pengajaran lagi untuk anak. Misalnya ketika selesai shalat harus berdoa, shalat tidak boleh gerak-gerak atau tolah-toleh, selesai shalat ada salam-salaman, kita harus infak untuk masjid setelah shalat, shalat itu harus rapi dan rapat shafnya, dll. Ilmu itu bisa dijelaskan oleh orang tuanya selama/setelah shalat berlangsung. Jika anak shalat berjejeran dengan temannya, dia tidak mendapatkan hal itu kan?

Kedua, jangan paksa anak untuk terus mengikuti shalat tapi tetap awasi. Shalat tarawih itu rakaatnya banyak. Karena ini awal pengajaran untuk anak, maklumi saja jika anak tidak bisa terus mengikuti semua rakaat shalat. Nanti, setelah anak semakin besar, semakin tau dan bisa melakukan shalat, lama-lama anak pasti bisa mengikuti semuanya. Tapi yang perlu diingat, jika anak ‘istirahat’ bukan berarti anak bebas bermain. Minta anak untuk tetap duduk di tempatnya. Kalau perlu biarkan anak tiduran di tempatnya, yang penting anak tidak beranjak dari tempatnya. Hal ini mengajarkan anak bahwa orang yang shalat harus terus berada di tempatnya, harus di dalam shaf, dan tidak boleh kosong. Jika anak tidak mau mengikuti shalat lagi dan terpaksa meninggalkan shaf, minta orang di sebelah untuk bergeser agar tetap rapat (ini yang susah, kalau sudah duduk seperti tidak mau geser.huhu)

Ketiga, karena anak tidak bisa terus mengikuti setiap rakaat shalat tarawih, maka usahakan cari posisi shalat di pinggir agar shaf tidak putus. Saya sering melihat anak yang ikut orang tuanya shalat dan sedang ‘beristirahat’, membuat shaf menjadi bolong. Tentunya hal ini tidak dibenarkan dalam shalat berjamaah. Tapi jika ternyata tidak bisa mendapatkan posisi shalat dipinggir, anak tidak usah dipakaikan sajadah. Orang tua bisa membagi sajadahnya dengan anak karena biasanya ketika shalat tarawih orang memakai sajadah yang super besar. Dengan demikian barisan tetap terlihat rapat meskipun anak kita duduk. Atau kalau anak memang sudah harus memakai sajadah sendiri, bawakanlah sajadah yang kecil sesuai ukurannya.

Hmm, apalagi ya? Sepertinya itu hal-hal yang paling bisa dilakukan selama mengajarkan shalat di masjid pada anak. Inti masalahnya adalah anak yang tidak bisa diam. Jadi sebagai orang tuanya yang paling bisa menasihati dan memberi perngertian pada anak, orang tua harus tegas. Orang tuanya sendiri lah yang paling bisa mengatur sikap anaknya selama shalat. Memang tidak mudah, tapi jika dilakukan konsisten dengan kesabaran pastinya anak akan segera menangkap ajaran kita.

Nb: sebenarnya saya dilema memposting ini karena tidak mau sok tau. Tapi mungkin dengan begini akan terjadi diskusi dan masukan yang lebih baik sehingga akan ada informasi positif yang bisa kita terapkan untuk kemajuan anak-anak kita (kita? what?hihihi)

[TO BE A MOM] Bersyukurlah, maka akan Ku tambah nikmatmu!

bersyukur

Untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, pastinya perlu usaha dan kesabaran yang luar biasa. Hal itu berlaku juga dalam proses penantian menjadi seorang ibu. Kadang, ada pasangan yang memerlukan usaha, doa, dan kesabaran luar biasa agar bisa mendapatkan anak. Dan mungkin aku salah satunya. Sering aku mengeluh kenapa aku harus ikut golongan pasangan seperti itu? Kenapa aku tidak masuk golongan yang mudah memiliki anak? Aku juga sering emosi setiap mendengar kabar ada ibu yang tega membunuh anaknya sendiri atau ada ibu yang tidak menginginkan anaknya karena hamil di luar nikah. Kenapa orang-orang seperti mereka terkesan mudah sekali mendapat anak? Kenapa kami, orang-orang yang berada di hubungan sah dan suci pernikahan dibuat lama memiliki anak?

Yah, kalau mengeluh dan marah rasanya tak akan habis yang bisa kuutarakan. Tapi aku sadar, apa dengan mengeluh maka Allah akan cepat mengabulkan doa kami? Tidak. Allah mungkin justru tidak suka karena aku senantiasa mengeluh dan tak pernah bersyukur. Bersyukur? Apa yang dapat kusyukuri?

Kalau berkaca lagi, sebenarnya aku mungkin tak pantas mengeluh akan keinginanku itu. Mungkin keluhanku itu yang membuatku justru sulit mendapatkan keinginanku. Aku selama ini lebih fokus merutuki diri, daripada bersyukur dan mendekat pada Allah. Beryukur itu sejatinya dilakukan tidak hanya dalam keadaan senang dan mudah, tapi juga dalam keadaan sulit dan menyakitkan. Keadaanku sekarang mungkin terlihat menyedihkan karena tak juga diberi keturunan. Tapi ada hal yang masih bisa disyukuri dari hal itu kan? Allah pasti menyimpan kebaikan dan keindahan juga dibalik ‘derita’ yang ku alami. Lalu, apa yang dapat kusyukuri?

Pertama, aku dikaruniai suami, mertua, dan orang tua yang luar biasa. Mereka tak pernah mendesakku dengan pertanyaan yang menyesakkan seperti “kapan punya anak?”, mereka tak pernah membuatku dalam keadaan tidak nyaman hingga menjadi stress dan sulit hamil, mereka selalu mendoakanku dalam setiap solat dan doa mereka, mereka selalu memberikan suntikan semangat agar aku selalu bahagia dan menerima apa yang Allah takdirkan. Intinya, mereka membantuku berjuang. Mereka adalah pasukan pertama yang akan membantu dan melindungiku.

Kedua, apa yang kualami hanyalah secuil derita yang dialami oleh orang lain. Di luar sana ada banyak pasangan yang menikah bertahun-tahun lebih lama dariku dan belum dikaruniai keturunan. Dengan pernikahanku yang baru berjalan satu tahun empat bulan, rasanya kesabaran yang kumiliki belumlah se-luar biasa yang dimiliki pasangan lain. Bahkan mereka tetap optimis, tetap menjalani penantian ini dengan baik. Jadi, aku seharusnya bisa lebih bersyukur bukan? Apalagi dulu aku juga pernah hamil yang artinya aku dan suami dalam keadaan ‘normal’, kami bisa punya anak. Tapi lagi-lagi, mungkin sekarang masih dinilai belum tepat.

Ketiga, dengan hidup hanya berdua dengan suami banyak kesempatan untuk menikmati hidup. Aku tidak berpikir bahwa jika sudah memiliki anak artinya tidak bisa menikmati hidup, hanya saja dengan masih berdua saja bersama suami ada banyak kesempatan untuk bisa lebih saling mengenal, bisa memiliki waktu adaptasi tentang peran dan tugas saumi/istri juga hak dan kewajiban suami/istri lebih lama, bisa memiliki waktu lebih banyak dalam mengabdikan diri pada suami dan hanya fokus untuk suami, juga memiliki waktu banyak untuk pacaran yang halal. Sekarang ini kami ingin menghabiskan waktu dulu dengan jalan-jalan, wisata, mencoba hal baru, yah pokoknya kegiatan pacaran yang sudah sah untuk bisa lebih menikmati hidup.hehe..

Keempat dan yang utama, aku yakin Allah tidak tidur. Allah pasti mendengar doa yang kami panjatkan, Allah pasti melihat dan menghitung usaha yang kami lakukan. Allah pasti akan menjawab dan mengabulkan keinginan kami, keinginan yang InsyaAllah akan membawa banyak kebahagiaan dan manfaat bagi pernikahan dan keluarga kami. Allah yang memerintahkan untuk menikah agar memiliki keturunan. Jadi, Allah pasti akan memberikan keturunan juga pada kami, kan? Ya, aku harus tetap optimis. Aku bersyukur atas apa yang kumiliki dan yang belum/tidak kumiliki saat ini. Nanti, hingga waktunya tepat, Allah pasti akan memberikan kesempatan itu juga pada kami. Aamiin :)

[TO BE A MOM] Harus optimis ya?

ibu hamil

Setelah sekian malam tidak lagi menyaksikan sinetron CHSI yang lagi nge-trand se-antero jagat raya, entah kenapa semalam iseng untuk nonton lagi. Sekedar ingin tahu si anu beneran tobat belum, si itu udah ngerusak rumah tangga anu belum, yaah pokoknya cuma pengen tau perkembangan sinetron ‘bagus’ milik Indonesia. Well, aku bukan mau bahas isi film itu sih sebenarnya. Pasti blog lain udah banyak yang bahas itu. Yang mau aku bahas adalah salah satu bagian dari film itu yang cukup bikin aku lagi-lagi merasa ‘jleb’ banget.

Di sinetron yang aku tonton semalam itu, ada bagian dimana sang tokoh utama divonis sakit kanker yang membuat rahimnya harus diangkat, yang itu artinya dia nggak akan bisa punya anak lagi. Bahkan dokter juga berkata bahwa mungkin penyakit itu yang menjadi penyebab keguguran sang tokoh di episode sebelumnya.

Ya Allah, rasanya pengen nangis pas denger itu. Bukan karena melihat akting sang tokoh yang luar biasa, tapi karena takut apa yang dialami tokoh itu juga bisa aku alami. Read the full post »

Pondok Indah Mertua VS Pondok Idaman Menantu

Baca judul di atas sepertinya serem banget ya? Kenapa? Karena bagi sebagian orang atau mungkin bagi banyak orang, tinggal bersama mertua adalah hal yang harus dijauhi. Serasa di neraka, katanya. Ikut campur urusan rumah tangga kita lah, dikit-dikit protes dan ngatur-ngatur lah, dan semacamnya. Bete sih memang kalau sampai gitu, terus gimana?

Eiiits, saya bukan psikolog yang bisa ngasih solusi macem-macem. Saya bukan mau bahas hal-hal apa yang harus/boleh dilakukan dan jangan dilakukan jika tinggal bersama mertua. Kebetulan saya tidak punya banyak ilmu tentang itu. Saya di sini hanya mau berbagi pengalaman tentang bagaimana rasanya tinggal bareng orang tua (mertua bagi suami saya) hingga akhirnya memiliki rumah sendiri. Apa saja suka dukanya, mana kelebihan dan kekuranganya, juga mungkin dapat membantu mba sis atau mas bro yang lagi galau antara tetap tinggal bareng mertua atau di rumah sendiri. Cekidot.. Read the full post »

[Telat Posting] Honeymoon di sejuknya Bromo..

Hai hai..

Jumla lagi, jumpa dengan Putri di sini.  :D

Setelah lama absen dari dunia per-bloggan, akhirnya memunculkan kembali tulisan yang semoga bermanfaat. Tulisan ini sebenarnya sudah nangkring lama di konsep, cuma kok ya gak diposting-posting. Masih memerlukan proses editing yang banyak rupanya.hoho

Well to the well well, seperti judul postingan kali ini aku mau bahas tentang honeymoon ke Bromo dulu waktu sama suami. *yaiyalah sama suami, sama siapa lagi? Kenapa aku sebut dulu? Ya, kejadiannya udah setahun yang lalu soalnya. *bukan telat lagi ini mah,udah kadaluarsa.

Tapi yang namanya sharing, mungkin lagi ada yang berminat honeymoon ke Bromo, jadi bisa dapat tambahan info sedikit lah dari sini. Tenang, sharing di sini bukan bahas cara-cara atau apalah yang agak pribadi, tapi lebih kepada pengalaman dan prosesnya. Eh, yaa pokoknya cerita tentang pengalaman selama honeymoon yang bisa dibaca oleh segala umur. :D Read the full post »

  • Facebook

  • Arsip

  • Kategori

  • Tag

    akad nikah anak shalat B1A4 bahasa Indonesia baro batik Batu berbicara Bromo choi jong hun cinta cita-cita fanfiction film film barat film indonesia filosofi ft island gongchan guru hamil honeymoon ibu ibu hamil iko uwais ingin hamil jalan-jalan Jatim Park 2 jinyoung jogja kampus keluarga korea kuliah lamaran Malang membaca menantu mengajar menjadi ibu menulis menyimak mertua motivasi moto gp my wedding novel parenting pedrosa pernikahan persahabatan puisi renungan resepsi sabar sarjana sastra Indonesia sekolah dasar semangat seserahan shalat tarawih syukur the raid tips mengajarkan shalat wisuda
  • Komentar Terakhir

    amanda on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Nanda Abdul Karim on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    olLa-joongiie on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    ROSA UNPRI on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Uwi Nie on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Rahmatika on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    weny on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    intan fatimah on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Dome on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Muhammed Bagus Dwian… on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.