Yeah, I’m Mrs. Wijayanto:)

Huaaaah, udah berapa abad gak nulis lagi?

Mangaaaaap ya saudara-saudara, lagi sok sibuk ni. Selesai urus yang satu, eh muncul satu lagi. Yah, inilah hidup. *ehh, kok malah curhat?

Oke, di sini aku mau kasih pengumuman. Mau press conference gitu kalau selebritis.

Jadi pemirsah, saya Alhamdulillah udah SAH menjadi istri dari seorang lelaki bernama Wibi Wijayanto. Ya, aku Mrs. Wijayanto sekarang. Yeeeeeeyyyy :D

n1

Niat awalnya sih mau share dan cerita semua proses sampe gelar  itu kusandang. Tapi apa mau dikata, ternyata urus nikah tu sangat amat menyita waktu, tenaga, dan perasaan. Jadinya setengah-setengah deh infonya. Sekali lagi maaf ya. *Hawa lebaran udah mulai berasa, jadinya minta maaf mulu. Tapi saya akan tetap share secara singkat proses-proses yang saya lewati ya. Semoga membawa manfaat.

Hari H, 23 Maret 2013

Hari spesial yang nggak akan pernah terlupa. Gimana deg-degannya mau mendapatkan gelar baru sebagai istri, gimana sedihnya kalau ingat akan hidup sendiri dan pisah sama keluarga, gimana senengnya karena apa yang diimpikan bersama masku dapat terlaksana, gimana semangatnya walau harus dirias super tebal + aksesoris super ribet + baju yang bikin nyesek karena pake korset atau apalah itu namanya yang dibalik kebaya + sepatu berhak lumayan yang kesempitan, bahkan gimana capeknya duduk seharian di pelaminan. Semuanya itu tak akan terlupa, sampai kapan pun, hingga maut memisahkan. *eaaaaaa

Pukul 08.00 acara akad dimulai. Setelah prosesi darimulai sambutan sampe penyerahan seserahan, aku diumpetin dulu (walau sebenarnya nggak ngupet sih, karena cuma duduk di depan pintu masuk tempat acara.hehe).  Nah, pas mau prosesi akad yang dipimpin bapak penghulu, baru deh aku dipanggil. Dengan diiring kedua adik (kandung + ipar), aku digiring masuk ke tempat acara. Ngelewatin red carpet, difotoin sama banyak orang, dipuji-puji cantik, wuuuiiihhh berasa artis! Nggak heran kalau pengantin itu dapet julukan “Raja dan Ratu sehari”.

Lalu aku duduk dan mulai menyaksikkan penghulu memimpin acara. Sampai saatnya, Papaku pun menikahkan aku dengan masku. Kami pun SAH!! Tangis haru sempat kulihat dari kedua air mata orang tua kami. Subhanallah, gerbang baru kehidupanku terbuka. Kami pun menandatangani semua berkas yang dibawa pak penghulu. Sesi selanjutnya, tentu aja foto-foto! Gaya begini, pegang ini, natap  itu, dll. Sok artis bener dah..hehe

Setelah itu pemberian selamat kepada kami selaku pengantin beserta kedua orang tua kami di atas pelaminan. WOWnya, mau ngucapin selamat aja sampe antriiiiiii bener dah. Tapi Alhamdulillah, itu berarti yang menyaksikan prosesi nikahku banyak. Itu tandanya yang berbahagia juga banyak. :)

Cumaaaa, di setiap rencana pasti aja ada celanya, ada cacatnya, ada kurangnya. Begitu juga dengan acaraku. Bukan karena nggak dihadiri LEE MIN HO sebagai bintang tamu, tapi karena kami melewati sesi foto bersama seluruh keluarga. Selesai acara baru deh ngeh kalau kami nggak punya foto bareng keluarga besar. Uhhh, nyesel banget. Kalau bisa diulang, diulang deh. Tapi kan nggak bisa..

Yaa, jadi pelajaran juga sih. Serapi apapun konsep yang dibuat, pasti akan tetep ada kurangnya. Karena yaa emang manusia itu nggak ada yang sempurna. Kok yaa aku dan keluarga nggak ada yang inget, trus saudara dan panitia juga nggak ada yang sadar atau kalalu sadar tapi nggak ngingetin. Tapi emang sih, mulai dari selesai akad nikah suasana di tempat acara udah ribet. Semua panitia langsung gerak untuk menjalankan tugas masing-masing. Jadi, yaa aku bisa mengerti. Aku ikhlas. Yang penting SAH-nya, bukan fotonya. :)

Selesai foto, kami ganti baju kedua. Kebaya jawa gitu, karena ada acara adat Jawa yang dilakukan sebelum resepsi. Acara adatnya simple aja, bukan yang ribet dan semua adat dipakai. Aku cuma pake proses lempar sirih, muterin pengantin lelaki, pecah telor, nuang koin+biji+kacang (apa namanya, lupa), suap-suapan ketan kuning+air, dan sungkeman. Yaa adat itu cuma mau nunjukin dan memperlihakan budaya Jawa aja sih. Tinggal di bekasi yang sukunya beragam, bagus sebagai sarana promosi dan pelestarian budaya, kan?

Selesai adat, ada tarian jawa juga. Kalau ini sebagai sarana hiburan dan promosi budaya juga. *Cocok jadi duta budaya Jawa ni. Tariannya gatot kaca sama pasangannya. Namanya tarian apa gitu, nggak hapal. *Duta budaya kok nggak tau? Payah..

Umumnya tarian Jawa, pastinya emang lama. Tapi nggak yang kemayu dan lemah gemulai gitu sih. Gerakannya justru semangat dan mengandung banyak filosofi tentang hubungan suami istri dalam pernikahan. Untungnya penjelasan itu nggak semua disampaikan dengan bahasa Jawa oleh sang MC dari campur sari sebagai hiburan acaraku itu. Jadi, masih ada yang bisa ditangkep sedikit-sedikit lah, lah wong aku asik liatin penarinya.hehe

Acara selanjutnya, tinggal salaman sama tamu. Nyaris nggak duduk. Buanyak banget yang dateng. Sampe-sampe mas fotografer harus menghentikan antrian dan nyuri-nyuri waktu tuk foto. Tapi yaa Alhamdulillah.. :)

Ini beberapa foto yang kami lakukan, kaya model nggak? *haha, nggak sadar diri

n6

n2

n4

Soooooo, pemirsah..

Dari apa yang aku ceritakan di atas, aku menyimpulkan beberapa hal.

Manusia aja nggak ada yang sempurna, apalagi dengan rencana? Serapi dan sebaik apapun rencana yang sudah dibuat, pasti akan tetap ada kurangnya. Yang jadi masalah, bagaimana kita menyikapi hal itu. Berlarut-larut menyesalinya, atau berbuat yang lebih baik agar hal itu tak terulang lagi ke depannya? AKu milih yang kedua. Next, jika aku menjadi panitia pernikahan adikku, saudaraku, atau tetanggaku, aku akan memperhatikan apa yang kurang dari acaraku.

Pernikahan itu sejatinya memiliki arti yang paling utama pada prosesi ijab kabulnya. Jadi, nggak mesti tuh harus digelar mewah dan ngabisin banyak biaya. Apalagi sampe nyusahin diri ngutang sana-sini untuk sehari. Dengan kreativitas dan sadar diri dengan memilih tempat rias, tenda, atau tempat acara, kita bisa kok bikin acara yang terlihat sedikit “indah”. Aku mengadakan tempat acara di lapangan masjid dekat rumah. Nggak perlu sewa, dan lumayan cukup juga menampung tamu. Tinggal pilih warna tenda yang keliatan sedikit “wah” aja. Kreatif kita aja lah..hehe

Selama menyiapkan acara pernikahan, umumnya calon mempelai dan keluarga dikelilingi oleh hawa negatif. Pengennya marah terus, gampang kesel, lebih sensitif, sering cek cok nentuin segalanya, dll. Bahkan nggak jarang juga bisa slek sama vendor rias, tenda, atau kateringnya. Aku juga ngalamin itu, cuma karena warna tenda aja hampir perang sama pihak rias. Tapi Alhamdulillah ibu riasnya tenang dan sabar ngadepin aku. Jadinya smuanya bisa clear sebelum hari H. Biar nggak ada rasa gimana-gimana pas acara. Banyak-banyak sabar deh intinya mah.hehe

Oke, sekian. Terima kasih..

Road to Wedding [4] : Hunting Seserahan season 2

Aiih, berasa sinetron ampe “season 2″ gitu. Tapi yaa emang itu season kedua alias sesi lanjutan dari perburuan barang seserahan.

Seminggu kemarin, aku dan keluarga ke Jogjakarta untuk liburan tahun baru. Nah, momen itu gak aku sia-siain gitu ajan untuk hura-hura. Aku dan mama juga sibuk ke sana-kemari untuk berburu barang keperluan pernikahan.

Niatnya mah mau cari kain batik jarik untuk seserahan ke mbahku (adat di keluarga mama, calon cucu menantu laki-laki harus memberikan seserahan kain jarik ke mbah), ehh udah muter sana-sini, sibuk beli yang lain-lain, jadi lupa. Tapi kami gak serta merta pulang dengan tangan hampa lah. Kami dapet kotak seserahnnya yang super murah!

Jadi, saat itu kami ke pasar beringharjo Jogja, niatnya mau cari bahan kain batik untuk seragam keluarga, juga baju batik untuk seragam panitia. Tapi setelah keliling, kami hanya berhasil dapet kain batik untuk keluarga aja. Karena nuansa pernikahan aku dan masku nantinya bernuansa biru, makanya bajunya gak jauh dari biru. Ini foto kain yang kami dapatkan:

kain batik

Kain ini kami beli di salah satu kios di sana, harga per meternya 20.000 rupiah. Mahal ya? Sama kalau beli di Jakarta kayaknya. Tapi yaa tak apalah. Katanya itu kualitas terbaik. Dan karena terlihat elegan, akhirnya kami memutuskan untuk membelinya. :)

Selesai beli kain, kami terus memasuki pasar sampai ujung. Ternyata pasar bringharjo ada dua bagian ya. Aku seumur-umur ke Jogja juga baru tau.hehe

Kami ke bagian belakang pasar. Di bagian itu, isinya rata-rata tentang kebutuhan pernikahan seperti kebaya dan aksesorisnya, souvenir, termasuk kotak seserahan (di bagian depan juga ada sih, tapi entah kenapa aku pilih ke belakang). Nah, kaki terus melangkah sampai ke salah satu kios yang jual kotak seserahan. Maku langsung berbinar lihat kotak seserahan berwarna biru. Ini nih yang aku cari. Dan pas tanya harganya, aku dan mama terkejut!

30.000 rupiah untuk 4 kotak! Murah bangeet nget!

Akhirnya tanpa nawar dan tanpa pikir panjang, aku langsung ambil beberapa kotak. Termasuk yang untuk seserahan balikan masku. Totalnya kami dapet 5 pak kotak yang hanya perlu dibayar 160.000 rupiah!

Ini kotak seserahannya:

kotak seserahan

Kurang jelas ya? Maaf, cuma pakai kamera hape jadi gak terlalu bagus. Jadi keranjangnya ada 4 pc, 2 keranjang kotak biasa yang perlu mika/plastik sebagai penutupnya nanti, 1 kotak yang sudah ada penutupnya, dan 1 lagi keranjang rotan yang sudah ditutup kain biru. Nah, 1 pcnya lagi, yang ada bentuk rumah itu untuk uang dan perhiasan yang jadi mahar. Lucu ya.. :)

Road To Wedding [3] : Lamaran

Yey.. Akhirnya aku juga bisa berdendang “Ku terima kau dengan Hamdallah”! hehe

Telat sih nge-post tulisan tentang lamarannya, tapi gak apa deh. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kalau kata pepatah :)

Sabtu, 8 Desember 2012 yang lalu, keluargaku kedatangan tamu istimewaa #dengan nada cherrybelle. Keluarga masku, beserta beberapa tetangga dekat, datang untuk melamarku. Dan yang lebih istimewaaaa #lama-lama jadi member chibi deh, hari itu bertepatan dengan ulangtahun mamaku. Ini kado spesial untuk mama.. :)

Alhamdulillah acara berjalan lancar hingga selesai.. :)

Subhanallah sekali, walau agak heboh (kata tetangga,huhu) karena pakai tenda+kursi dan prasmanan (yang katanya udah kaya hajatan), tapi aku seneng karena berlimpah doa dan kasih sayang pada hari itu.

Saudaraku yang dari Jawa (kampung mama n papa-red), yang awalnya gak bisa dateng, akhirnya dateng juga. Tetanggaku juga mau repot-repot dari pagi masak bareng-bareng untuk acara malam itu. Dan yang lebih spesial, ternyata banyak banget dapet kiriman kue dari saudara dan kerabat yang dateng. Yaa walau itu menyebabkan kelebihan makanan yang super duper banyak sehingga makanan yang sudah disiapkan banyak jadi semakin banyak #halah, akhirnya kue-kue itu juga berterbangan ke rumah tetanngga, hehe :)

Tapi Alhamdulillah sekali, terima kasih sangat untuk mereka.. #sambil nunduk-nunduk kaya orang Jepang

Btw, aku di sini mau berbagi soal susunan acara lamaranku pada malam itu. Mungkin ada caman (calon manten) yang lagi browsing-browsing untuk tau apa aja sih dan gimana sih susunan acara lamaran itu?  Berikut liputannya #berasa reporter

1. Penyambutan keluarga calon manten laki-laki (salaman, pemberian seserahan dan penerimaan seserahan kepada keluarga calon manten perempuan, tapi belum bisa dibawa masuk. Jadi perlu meja di dekat tempat duduk proses lamaran).

2. Pembukaan oleh MC.

3. Sambutan dari keluarga calon manten perempuan berupa ucapan selamat datang dan menanyakan maksud kedatangan rombongan keluarga calon manten laki-laki (kalau aku, oleh papaku).

4. Sambutan dari keluarga calon manten laki-laki berupa penyampaian maksud kedatangan yaitu melamar.

5. Jawaban dari keluarga calon manten perempuan (yang diwakili oleh pakdeku), dengan sistem aku yang sebelumnya sembunyi di dalam, dipanggil keluar untuk menjawab. Jawabannya? Senyum sambil ngangguk pelan. :D

6. Setelah lamaran diterima, dilakukan pengikat berupa penyematan cincin di jari manis tangan kiri calon pengantin. Calon manten laki-laki disematkan oleh ayah dari calon manten perempuan, dan calon manten perempuan disematkan oleh ibu dari calon manten laki-laki. Karena belum menikah, jadi belum muhrim dan gak boleh masang cincin langsung oleh kedua calon.

7. Karena lamaran sudah diterima dan sudah ada ikatan, maka barang seserahan yang sebelumnya diberikan oleh calon maten laki-laki, sudah bisa dibawa masuk oleh keluarga calon manten perempuan. Nah, begitu dibawa masuk, keluarga calon manten perempuan  menyiapkan seserahan balikannya.

8. Sambutan dari Pak RT (ini gak wajib, karena aku dan masku penganut “pacar lima langkah”, makanya kami meminta beliau untuk memberikan sambutan).

9. Doa

10. Penutup

11. Makan-makan

Yaah, kira-kira itu proses lamaranku kemarin #masih berasa deg-degannya jadi berasa kemarin mulu.haha :D

Smoga bermanfaat infonya.. :)

nb: Sayangnya aku gak sempet foto sama mas karena setelah makan-makan gak lama kemudian rombongannya pulang. Jadi cuma sempet makan dan ngobrol sebentar, ehh mas pulang deh. Mungkin gini kalau acara lamaran malem, jadi gak punya waktu lama.huhu

Road to Wedding [2] : Persiapan Lamaran

Jarang apdet, sekali apdet langsung di tulis semua. Bloger yang buruk, jangan ditiru ya. Hehe..

Oke, sebelumnya aku dah berbagi cerita tentang persiapan pernikahan yang kulakukan pertama, yaitu dengan mengumpulkan seserahan. Selanjutnya aku mau berbagi cerita tentang persiapan lamaran. Hikz, jadi sedih nih. Udah mau lamaran, tapi kaki masih belum normal. Calon manten yang mau dilamar beberapa hari lagi ini akan tampil dengan pincang-pincang atau nggak ya?huhu

Tuk persiapan lamaran, ada banyak yang perlu dilakukan. Dan semuanya rata-rata dilakukan oleh orang tuaku. Aku cuma kebagian nentuin menu masakan dan belanja barang balikan tuk besan. Haha, manten yang malas ya?

Berikut adalah langkah yang aku dan keluargaku lakukan:

1. Memastikan waktu kedatangan keluarga masqu, calon besan. Awalnya hanya masqu yang menyampaikan kepada orang tuaku tentang waktu lamaran, belum orang tuanya. Makanya aku menanyakan kepada masqu lagi, tanggal dan jam pastinya. Dan masku menanyakan lagi ke orang tuanya (estafet gitu.hehe). Selanjutnya sekalian menjengukku, keluarga calon besan pun menyampaikan langsung kepada orang tuaku. InsyaAllah tanggal delapan desember dua ribu dua belas bada isya, tepat saat mamaku ultah. Mah, kado spesial ni :)

2.   Memastikan jumlah orang yang akan datang. Waktu orang tuanya datang dan menyampaikan waktu lamaran, beliau juga menyampaikan jumlah orang yang kira-kira akan menjadi rombongan mereka. Dengan begitu, aku dan keluarga jadi tau kira-kira harus menyiapkan makanan berapa banyak. Ditambah dengan keluargaku, tetanggaku, teman-temanku, wuuih ternyata banyak juga. 100an orang bisa tuh kumpul pas acaraku.

3.  Memesan tenda dan alat makan. Setelah semuanya jelas, mama langsung meluncur ke tempat sewa tenda dan alat makan. Agak berlebihan mungkin, karena sampe pake tenda gitu. Tapi karena yang dateng kemungkinan akan banyak, ditambah sekarang musim hujan, belum lagi rumahku yang imut dan nggak akan muat nampung orang 100an kecuali mereka mau umpel-umpelan, akhirnya keputusan terbaik yaa pakai tenda. Ohya, ada yang menarik dari tahap ini. Dengan mesan tenda di dekat rumahku, otomatis berita tentang lamaran dan nikah nyebar ke pelosok RW. Wuih, berasa seleb deh. Semua orang jadi tau.  Yah, maklum sih. Aku dan masku kan kaum penganut “pacar lima langkah”. Kami satu erte dan hanya beda dua gang. Hehehe :D

4.  Seperti apa yang sudah aku bilang sebelumnya, aku hanya kebagian tugas menentukan menu makanan dan snack. Setelah itu, dengan berembuk bersama tetangga, akhirnya diputuskan bahwa untuk masak akan dilakukan bersama-sama dengan tetangga, tidak perlu pesan catering. Wuaaah, bersyukur punya tetangga yang super baik dan perhatian. Dan asal tau, mereka yang justru lebih semangat untuk acaraku. Tinggal nyari snack tuk acara aja. Dan mama mau mesen sama saudara yang biasa terima pesanan snack.

5.  Menentukan panitia acara dan acaranya. Untuk acara lamaran, tentunya nggak bisa sembarangan. Nggak mungkin dateng langsung ngelamar. Tentunya ada beberapa tahapan yang harus dilakukan, dan tentunya membutuhkan banyak orang. Makanya, keluargaku dan juga tetangga akhirnya berembuk alias rapat untuk menentukan siapa yang menjadi MC, penceramah, doa, perwakilan keluarga, dll. Wuih, setiap mereka rapat aku makin deg-degan.. :$

6. Menentukan gambaran umum tentang acara nikahan nanti. Jadi maunya keluargaku, saat lamaran itu sudah ada draft kasar tentang perkiraan waktu, tempat, dan acara nikahan. Keluargaku sendiri sih sudah menentukan hal itu, tinggal nanti dibicarakan pada saat lamaran. Disesuaikan dengan pendapat dari keluarga calon besan.

7. Berkoordinasi dengan keluarga calon besan. Saat rapat pembentukan panitia sebelumnya, ada tetanggaku yang akan bertugas menyampaikan susunan acara berikut gambaran secara umum tentang acara lamaran yang sudah keluargaku siapkan. Jadi biar keluarga calon besan nggak bengong dan nggak tau harus mulai dengan gimana. Rencananya koordinasi dilakukan sebelum hari H lamaran.

8.  Beli baju pasangan. Entah niat mau kembar, kompak, keliatan serasi, atau apa, tapi aku dan mas pengen pake baju samaan pas lamaran. Yaa selain karena mas dan aku bingung juga mau pake baju apa sih. Kemeja, kaya kerja. Batik, udah sering banget. Koko, kaya mau solat. Belum lagi aku yang ngotot maunya pake gamis/dres gitu. Makanya kita keliling toko yang jual baju muslim pasangan alias sarimbit plus browsing internet. Dan ternyata nyari sarimbit muslim tu nggak gampang. Selain masalah selera mas dan aq yang suka beda, harga, warna, kesediaan stok, ongkos kirim kalau beli online, waktu sampai baju, sempet bikin kita malah ribut dan hampir nggak jadi. Udah gitu aku yang masih belum bisa keluar rumah kan nggak bisa keliling lagi. Eh, akhirnya mas ketempat yang jual baju muslim, teman mama. Mas dapet katalog baru, dan akhirnya kita pesen. Semoga sesuai yang diharapakan ya, Mas. Model, warna, dan waktu sampai yang nggak mepet. Aamiin.. :)

9.  Jaga kesehatan. Aku yang memang belum sembuh, mama yang akhir-akhir ini sering masuk angin, calon mertuaku yang entah kenapa bisa jatuh disaat yang sama denganku, membuatku, keluargaku, mas dan keluarganya, ekstra jaga kesehatan. Yang paling jadi sorotan sih tentu saja aku. Jalan aja belum bener, turun tangga belum bisa padahal acara di lantai 1 rumahku. Hudah-mudahan bisa sembuh ya Allah.. Udah H-4 dan aku ingin sembuh… #sambil khusyuk berdoa sama Allah

10. Terus berdoa dan tawakal, juga membeli dan menyiapkan yang belum. Semua udah disiapin, udah dilakuin, tinggal berdoa dan berserah diri semoga lancar, tanpa halangan apapun, dimudahkan, dan diberi keberkahan. Ohya, tentunya membeli kebutuhan yang belum. :)

Road to Wedding [1] : Hunting Seserahan

Maaaak, aye mau nikaaaaaah!

Haha, mungkin kalau digambarkan perasaanku sekarang, hebohnya lebih dari itu. Campur-campur, seneng, semangat, dicampur deg-degan, takut, dan sedih juga. Yaiyalah, mau memulai hidup baru, dengan orang baru dan keluarga baru. Wuuuiihh, pastinya gampang-gampang susah, seneng-seneng sedih, yah tumplek blek lah rasanya.

Tapi yaa sebelum nikah, tentunya ada banyak persiapan yang harus dilakukan. Dan di sini aku ingin berbagi cerita, mengeluarkan uneg-uneg, dan mungkin bisa dijadikan pelajaran juga. :)

Aku dan masku (pacar bukan abang-red) dari awal memadu kasih (ciaelah bahasanya) memang sudah memutuskan untuk serius dalam menjalani hubungan ini. Serius dalam artian siap lanjut ke jenjang berikutnya: NIKAH. So, selama itu pula kami berusaha menyatukan perbedaan, menyamakan pandangan, mengerti satu sama lain, yaa pokoknya idealnya orang yang akan membina rumah tangga lah. Nah, setelah sudah merasa siap dari segi batin alias jiwa, juga dari segi finansial (bukan matre, tapi ini memang penting), akhirnya kami siap memulainya. Road to wedding.. :)

Langkah pertama yang kami lakukan dalam menyiapkan pernikahan adalah dengan menyicil barang seserahan. Masukan dari teman-teman yang sudah menikah, browsing kesana kemari, nyari barang seserahan itu ternyata bikin ribet dan butuh waktu. Yaiyalah, yang dijadiin seserahan nggak sedikit. Jadi perlu pertimbangin merk, kualitas, harga, warna, termasuk tempat belanjanya. Kalau dari jauh hari, akan lebih mudah dan puas milihnya.

Nah, barang seserahan yang aku perlu siapkan di antaranya:

1. Mukena + sajadah + Al Quran + tasbih

2. Pakaian kerja + kerudung kerja + tas kerja + sepatu kerja

3. Brukat kebaya + kain + kerudung kebaya + tas pesta + sepatu pesta

4. Pakaian dalam + baju tidur

5. Alat mandi + handuk

6. Make up + parfum

7. Kue + Buah

                Dari beberapa barang tersebut, ada beberapa yang sudah dibeli, dan ada beberapa yang belum. Dan benar sekali, untuk beli itu semua ternyata ribet bet. Keliling mall, masuk satu toko ke toko lainnya, kaki dan badan pegel, ngabisin waktu juga. Uhh, untung nyicil yaa..

Ohya, dengan nulis ini ternyata masih lumayan juga yang belum aku dapet: kerudung kerja, kerudung kebaya, make up, parfum, kue, dan buah. Wah, harus siap bertarung dengan waktu, fisik, dan biaya nih. Hehe..

Sekedar info, dari barang-barang itu memang ada yang dibeli dengan merk terkenal, tapi ada juga yang nggak. Intinya aku milih yang akan aku pakai dan yang sesuai budget tentunya. Seserahan ini baru secuil dari kebutuhan yang dikeluarkan untuk nikah. So, bertindak bijak tentu lebih baik. Ohya, ada lagi nih infonya. Ternyata yang namanya belanja tuh emang sering bikin kalap perempuan. Megang uang, pengennya belanja ini itu. Udah milih tas ini, eh pengen tas yang itu. So, kita kaum perempuan harus bisa jaga mata. Kebetulan aku beli semua barang itu berdua dengan mas. Selain karena akan dipake sama aku jadi harus yang sesuai sama selera aku, hadirnya mas juga bisa sebagai “satpam” yang mengontrol pengeluaran kita. Walau nggak jarang mas malah kasih komentar: “Yaudah, terserah kamu ambil semua yang kamu suka.” Tapi untungnya aku tipe perempuan yang bisa mengontrol diri dari belanja, yaah beda tipis sama pelit lah.haha :D

  • Facebook

  • Arsip

  • Kategori

  • Tag

    akad nikah B1A4 bahasa Indonesia baro batik berbicara choi jong hun cinta cita-cita fanfiction film film barat film indonesia filosofi ft island gongchan guru iko uwais jinyoung jogja kampus keluarga korea kuliah lamaran membaca mengajar menulis menyimak motivasi moto gp my wedding novel pedrosa pernikahan persahabatan puisi renungan resepsi sarjana sastra Indonesia sekolah dasar semangat seserahan the raid wisuda
  • Komentar Terakhir

    Dome on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Muhammed Bagus Dwian… on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Oka andini on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    sebastian on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    aim on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    christian bonya on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Leni on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    Hendro kobez (@hendr… on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    septia on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
    aulia on Kenapa ambil jurusan bahasa da…
  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.